Gelar Refleksi Akhir Tahun, BRGM Ingin Capaian Tahun 2021 Berlanjut.

SIARAN PERS

No: SIPERS/BRGM/13/12/2021

dapat disiarkan segera

Agenda restorasi gambut menempati posisi yang urgen dalam upaya Indonesia untuk memulihkan lingkungan hidup. Tercatat, Indonesia menduduki peringkat keempat negara pemilik lahan gambut terluas di dunia. Sementara itu, Indonesia juga memiliki peran yang strategis dalam memitigasi kerusakan iklim global melalui proses rehabilitasi mangrove. Indonesia adalah pemilik dari 3,36 juta/ 20 % dari total populasi mangrove di seluruh dunia.

Dari luasan tersebut, tercatat 637.624 hektare merupakan mangrove dengan tipe kerapatan jarang (kurang dari 50%), sehingga termasuk kriteria kritis. Oleh karena itu, melalui Peraturan Presiden Nomor 120 Tahun 2020 tentang pembentukan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove, BRGM ditargetkan untuk merestorasi ekosistem gambut seluas 1.200.000 hektare di 7 Wilayah dan merehabilitasi mangrove seluas 600.000 hektare hingga tahun 2024 di 9 areal kerja.

Khusus di tahun 2021, BRGM menargetkan untuk melakukan restorasi gambut seluas 300.000 hektare di 7 provinsi prioritas. Demi menjaga agar volume air selalu menggenang dan membasahi gambut di sekitarnya, dibangun 774 sekat kanal, 75 sumur bor dan 18 titik penimbunan kanal. Dampak dari upaya ini adalah efektif dalam mencegah terjadinya kekeringan pada lahan gambut.

Selanjutnya, juga dilakukan upaya revegetasi atau penanaman kembali lahan gambut dengan jenis-jenis tanaman yang bernilai koservasi dan ekonomis pada 760 ha lahan gambut. Untuk memperkuat upaya ini, BRGM telah menyalurkan 257 paket revitalisasi ekonomi kepada masyarakat di sekitar ekosistem gambut.

Dalam persoalan rehabilitasi mangrove, BRGM mendapatkan proses refocusing anggaran dan perubahan target rehabilitasi menjadi total 33.000 hektare di 32 provinsi di pertengahan tahun 2021. Target ini kemudian dapat dicapai bahkan dilampaui, dengan total realisasi penanaman seluas 34.911,72 hektar atau 105,79% dari total target di tahun 2021.

Untuk itu, mendekati pergantian tahun, dilaksanakan refleksi sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas yang dilakukan oleh BRGM. Dalam agenda ini, dipaparkan berbagai capaian, tantangan dan hambatan yang dilalui oleh BRGM serta tindak lanjut dari pelaksanaan restorasi gambut dan rehabilitasi mangrove di tahun 2022.

Selain BRGM, agenda refleksi ini juga melibatkan berbagai elemen yang bekerjasama untuk melakukan percepatan rehabilitasi mangrove dan restorasi gambut, seperti Pemerintahan Provinsi/daerah, Kementerian LHK, Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian PUPR, Kementerian Desa, PDT dan Trasmigrasi, Univeristas, NGO, Sekolah Adiwiyata, dan Kelompok Masyarakat.

Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, Edy Pratowo, yang hadir secara daring sebagai penanggap menyampaikan apresiasi terhadap kinerja BRGM selama tahun 2021. “Kami sangat merasakan kehadiran dari BRGM, bahkan jauh sejak kami masih menjabat sebagai Bupati di Pulang Pisau. BRGM hadir membantu kami dalam menghadapi kebakaran hutan” cerita Edy.

Hal yang sama juga diutarakan oleh Waluyo, perwakilan masyarakat dari Desa Limbung, Kab. Kubu Raya, Kalimantan Barat. “Desa kami termasuk daerah yang rawan kebakaran. Alhamdulillah BRGM memberikan kami kepercayaan untuk mengelola 12 sekat kanal. Bantuan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat desa dan akan kami jaga sepenuhnya. Harapan kami, BRGM dapat terus solid dan bertahan sampai 2024, bahkan tidak dibubarkan” ujar Waluyo.

“Hal yang paling luar biasa dari program BRGM adalah Istiqamah membangun dari desa. Ini sepertinya sudah menjadi falsafah dari BRGM. Menurut saya, ini adalah contoh dari program pemerintah yang paling keren” ujar Dr. Suraya Afif, Akademisi dari Universitas Indonesia. Komitmen untuk membangun komunitas-komunitas masyarakat juga ditegaskan oleh Sekretaris Badan BRGM, Ayu Dewi Utari.

“BRGM dibentuk untuk mempercepat proses pelaksanaan restorasi gambut dan rehabilitasi mangrove. Kami terus berkomitmen untuk membangun dari daerah pinggiran” tutup Ayu.